August202014

Watching Guardians of the Galaxy

Film paling humor dari Marvel Studios co Disney. Siap-siap terbahak jika menontonnya.
Dan selalu ada pesan dari Marvel lebih khusus Stan Lee. – View on Path.

August182014
August172014
Sehati Merdeka dengan Palestina with Faiz – View on Path.

Sehati Merdeka dengan Palestina with Faiz – View on Path.

9AM

Arti Kemerdekaan di Mata Opa

Pagi itu terlihat Opa duduk bersandar di kursi goyangnya. Beliau sedang membaca koran. Hal itu selalu dilakukannya tiap pagi.
Meskipun telah tua, Opa selalu rajin bekerja. Taman yang indah di depan rumah adalah buah kerjanya. Ya, dia mengisi hari-hari tuanya dengan merawat tanaman.
Kalau sudah lelah, duduklah ia sambil mendengarkan radio dengan mata terpejam.
Aku biasa mengganggunya dengan meminta uang.
Opa masih memperoleh pensiun, karena itu aku suka meminta uang untuk membeli Anak Mas, Permen Sugus, atau hanya sekadar untuk ditabung.
Uang pensiun itu memang biasanya dibelikan macam-macam untuk cucu-cucunya. Beliau sendiri tak pernah membeli baju sekalipun untuknya. Oma sudah tak ada lagi.
Pagi itu aku berniat meminta uang untuk membeli bola. Karena, aku tahu benar kemarin Opa pulang dari kantor Kas Negara untuk mengambil pensiunnya.
Aku merayap ke belakangnya. Aku hendak mengejutkan Opa dengan tiba-tiba berada di belakang kursi goyangnya.
Tetapi apa yang kulihat ?
Dari belakang kursi aku mendengar Opa menangis sesenggukan. Kulangsung melihat ke depan dan kulihat mata Opa berkaca-kaca, ada setitik yang menetes pada koran yang dibacanya.
Hati-hati aku bangkit dan berjongkok di hadapan Opa.
“Opa, kenapa Opa menangis?” tanyaku.
Cepat sekali Opa yang terkejut itu mencoba menghapus air matanya, mencoba tersenyum.
“Siapa yang menangis ?” katanya. “Menangis adalah pekerjaanmu, bukan pekerjaan Opa,” katanya pula. Makin melebar pula senyumnya.
“Ah, Opa nangis…”
“Apa salahnya kalau menangis?” tanya Opa.
Aku bergurau, “Kalau Opa menangis, aku tak berani minta uang untuk beli bola…” Lucu sekali. Opa menarik tanganku. Diacaknya rambutku. Diletakkannya aku di pangkuannya.
“Lihat ini…” katanya.
Aku membalikkan mukaku dan di hadapanku terbentang koran yang dibaca Opa. Kulihat Opa menunjukkan gambar orang-orang tua dengan latar sebuah bola dunia dengan daun di sebelahnya, gambar yang sering aku lihat di Dunia Dalam Berita-nya TVRI. Dan di antara orang-orang tua itu, kulihat ada sesosok yang aku kenal. Sosok Presiden Republik Indonesia. Beliau berdiri di tengah orang-orang tua itu.
“Gambar apa itu, Opa ?” tanyaku polos.
“Itu gambar pemimpin dunia, yang ini Presiden Amerika, ini Kaisar Jepang, nah yang ini Perdana Menteri Inggris, mereka sedang berkumpul di Indonesia dalam rangka rapat Perserikatan Bangsa-Bangsa.” Jelas Opa.
“Lalu,ada  apa dengan gambar itu, Opa ?” tanyaku lagi masih belum mengerti.
“Karena melihat gambar inilah, Opa menangis. Tapi, Opa menangis bahagia. Bangsa kita sudah sejajar dengan bangsa lain. Dihargai martabatnya. Beruntunglah kau. Karena kau hidup di zaman yang demikian. Zaman ini. Dulu dalam zaman penjajahan tak akan terjadi peristiwa seperti yang kau lihat di gambar. Pemimpin dunia tidak akan mau kesini untuk rapat karena bangsa ini adalah bangsa jajahan. Kau..” Opa menjeda penjelasannya.
“…Kau…belajarlah sejarah di sekolah. Belajarlah baik-baik, ambil pelajaran daripadanya. Kemerdekaan adalah sebaik-baiknya suatu bangsa…”
Aku terharu dan mengerti mengapa Opa berair mata.
Tetapi…
“Ambillah uang ini dan pergilah membeli bola lalu bermainlah bersama teman-temanmu”
Selasa, 16 Agustus 2011/ 16 Ramadhan 1432 H (Diceritakan pada pertemuan Komunitas Langit Sastra)
August162014

Review Buku: Perempuan Bernama Arjuna

Dunia Sophie Versi Indonesia dan Lebih Dewasa

                Banyak orang memandang bahwa filsafat adalah suatu ilmu yang berat. Sebagian lagi mengatakan bahwa filsafat merupakan ibu dari semua ilmu. Sedikit manusia pada akhirnya tidak pernah mau mempelajari dan mengenal apa itu filsafat sesungguhnya. Bagi mereka hidup saja sudah berat apalagi kemudian belajar dan berpikir yang membuat otak pusing. Seiring dengan kemajuan zaman memang orang seolah meninggalkan filsafat. Sesuatu yang praktis dan dapat diaplikasikan lebih menarik minat.

                Namun, tentu saja filsafat akan melekat pada kebudayaan manusia hingga akhir zaman. Satu dua orang kemudian mencoba “meringankan” filsafat. Salah satunya yang sangat masyhur dan menjadii bapak pengantar pengenal filsafat adalah Jostein Gaarder. Gaarder menulis sebuah novel filsafat dengan tokoh anak SMP bertajuk “Sophie Verde” alias “Dunia Sophie”. Penulis asal Norwegia ini mencoba meringankan filsafat dari mula sampai postmo-nya. Sedangkan, di dalam negeri Indonesia sepengetahuan saya belum ada yang mencoba menulis pengantar atau dasar-dasar filsafat dengan bentuk novel.

                Sampai akhirnya pada akhir bulan puasa kemarin, saya menemukan novel “Perempuan Bernama Arjuna” buah karya sastrawan Indonesia penulis “Ca Bau Kan”, ya tidak lain dan tidak bukan, Remy Sylado. Novel ini bercerita tentang Arjuna yang mengambil kuliah magister filsafat di Belanda. Dia sudah menuntaskan gelar sarjana filsafatnya di Indonesia, namun, dia ingin terus mendalami filsafat sebagai sebuah pendalaman ilmu untuk dirinya pribadi. Diceritakan di sini Arjuna adalah anak dari pasangan Tionghoa-Jawa yang kebetulan sangat mengenal dan memegang adat istiadat serta budaya masing-masing sehingga pemikiran-pemikiran Arjuna juga diwarnai oleh pemikiran Jawa-Tionghoa.

                Remy Sylado mengajak pembaca menyelami pemikiran para filsuf yang mempengaruhi filsafat dari mulai Plato, Kant, Nitszche hingga Sartre tak lupa juga dia menyelipkan banyak tokoh populer semacam John Lennon, Nat King Cole dan berbagai seniman film dan musik. Penulis yang mempunyai banyak naa pena ini memperkenalkan mereka melalui solilukui Arjuna, debat Arjuna dengan teman kuliahnya, diskusi kelas filsafat Arjuna, hingga penjelasan dosen filsafat Arjuna.

                Sesuai dengan sampul depan buku ini bahwa tertera bacaan “Bukan Bacaan Ringan” maka bagi siapa saja yang tidak pandai matematika lebih baik tidak membaca buku ini. Mengapa? Karena seperti syarat Plato bagi orang yang ingin masuk ke akademinya dan menjadi muridnya, orang tersebut haruslah pandai matematika untuk bisa pintar filsafat. Sehingga buat yang mencari bacaan ringan dan tidak mengerti filsafat lebih baik tidak membaca buku ini. Buku ini sangat segmented kepada para pembaca yang minimal sudah mengambil mata kuliah Pengantar Filsafat, kalau dulu di FIB UI “Dasar-Dasar Filsafat” kemudian dilanjutkan dengan “Sejarah Pemikiran Modern” sekarang digabung menjadi satu mata kuliah yakni “Pengantar Filsafat Pemikiran Modern”. Wah, saya jadi ngelantur yah, intinya seperti itu. Sekali lagi jika mau menambah ilmu dan berpusing-pusing dengan pemikiran filsafat silakan koleksi buku ini, tetapi jika tidak mending lebih baik membaca majalah Bobo saja.

Karena seorang pembaca yang baik membaca dari yang ringan sampai yang berat.

August152014

Thought via Path

Hidup hanya sebatas menandaskan sepi yang tidak pernah selesai sebelum sesuatu yang sempurna seperti kematian mendatangi.-Puthut EA-

Teringat kata-kata ini saat tadi takziyah ke rumah teman SMA yang kakaknya meninggal dunia… – Read on Path.

August142014
Keinginan Terakhir – View on Path.

Keinginan Terakhir – View on Path.

August132014
“Bahwa semua hal yang mendatangkan keraguan, toh di situ ada suatu kepastian, kita tahu pasti jawabnya: ya, keraguan itu sendiri.” Remy Sylado dalam novel “Perempuan Bernama Arjuna” halaman 69.
August92014

Review Buku: Sabtu Bersama Bapak

Untuk kalian yang sedang mencari pasangan hidup untuk berbagi hingga nanti tua, kami yang akan menjadi orang tua, kita yang akan tua.

Bapak, Ayah, Papa, Abi, atau apapun kita menyebutnya, pada dasarnya itu hanyalah panggilan cinta kita terhadap orang yang memberikan kita nafkah dan memberikan penguatan karakter kepada kita.Rasulullah memang hanya menyebutkan satu kali “Bapakmu!” yang harus dihormati setelah tiga kali menyebut “Ibumu” ketika seorang pemuda bertanya tentang orang yang harus dihormati. Namun, peran bapak tetaplah besar dalam sebuah keluarga. Orang yang mencari nafkah dan mendidik sejak kecil adalah Bapak.

Lalu bagaimana jika bapak kita tiada? Apakah akan terhenti pendidikan karakter dan segala nilai-nilai yang hendak ditanamkan dalam keluarga? Bisa jadi ya, mungkin juga tidak. Bagi Adhitya Mulya penulis novel “Jomblo” sendiri jawabannya adalah tidak. Dia mengatakan hal tersebut dalam novel terbarunya yakni “Sabtu Bersama Bapak”.

Novel ini kami (saya dan istri saya) beli ketika mampir di toko buku jelang lebaran. Mungkin akan menjadi tradisi kami ketika orang beli baju baru saat mau lebaran, kami justru membeli buku baru. Tahun ini kami membeli dua buah buku baru yakni “Sabtu Bersama Bapak” dan “Perempuan Bernama Arjuna”. Tahun kemarin kami membeli satu set “1Q84” dan “Perpustakaan Ajaib Bibbi Bokken”. Entah tahun depan.

Sabtu Bersama Bapak” adalah novel kedua Adhitya Mulya yang saya baca setelah sebelumnya saya membaca buah karyanya yang nge-hits “Jomblo”, sedangkan “Gege Mengejar Cinta” awalnya saya mau baca di Palembang karena istri saya bilang dia punya. Tapi, ternyata begitu mudik sudah tidak ada itu buku.

Saya tidak akan terlalu berpanjang kalam untuk menceritakan isi buku ini. Intinya ada sebuah keluarga yang Bapaknya meninggal lebih dulu karena kanker lalu kemudian setahun sebelum kematiannya dia merekam berbagai video berisi nasihat, ajaran, dan nilai-nilai keluarga yang hendak dia tanamkan.

Ringan saja sebenarnya novel ini. Namun, pengamalan dari nasihat-nasihat si Bapak itu yang justru berat. Jujur di beberapa bagian saya merasa tertusuk #JLEB. Penulis berhasil membawa pembaca menaiki sebuah roller coaster perasaan. Awalnya lucu, kemudian haru dan akhirnya gerutu karena tiba-tiba saja bukunya sudah habis selesai dibaca.

Saya memberikan nilai tiga setengah dari lima. Kenapa? Karena di bagian akhir (spoiler alert)….(Kalau gak mau tau akhirnya langsung aja ganti tumblr atau scroll ke yang lain)….

 

 

 

……………………..happy ending…Tidak seperti di “Jomblo” yang ada salah satu tokohnya harus sedih. Namun, tentu saja ini sebuah buku yang layak dikoleksi kalau ingin terus membaca lagi dan lagi kalimat-kalimat serta nasihat-nasihat juga kutipan-kutipan yang bagus.

*Sumber Gambar: Dokumentasi Pribadi

**Beberapa Kutipan

August72014
“Membangun sebuah hubungan itu butuh dua orang yang solid. Yang sama-sama kuat. Bukan yang saling ngisi kelemahan. Karena untuk menjadi kuat, adalah tanggung jawab masing-masing orang. Bukan tanggung jawab orang lain.” Adhitya Mulya melalui tokoh Cakra Garnida dalam novel “Sabtu Bersama Bapak” halaman 217.
← Older entries Page 1 of 105