August12014

Musyawarah Buku Langit Sastra 2014

majalah-katajiwa:

Segera!
Musyawarah buku Komunitas Langit Sastra menghadirkan:
kurniawangunadi azharnurunala @alldofj

Nantikan…

Ada di bulan September

reblog 

July282014

At Terminal Depok

Jadi kalau mau ke Bandara Soetta dari sini (Terminal Depok) nama bisnya bukan DAMRI gak bakalan ada,adanya HIBA yang ke Bandara. – at Terminal Depok with Nayasari – See on Path.

July222014

Malam Keempat: Allah Saja Maha Mensyukuri (Asy Syakuur)

Jakarta, 21 Juli 2014 / Malam 24 Ramadhan 1435

Malam ini menurutku adalah malam kesyukuran sekali lagi. Segala puji hanya milik Allah. Hanya Dia yang berhak mendapatkan kredit atas segala kehebatan makhluk-Nya sebenarnya. Aku iktikaf di masjid pertama kali aku disuruh melakukan amalan ini oleh senior sembilan tahun lalu. Masjid Al Ikhlas Jatipadang. Aku flashback sekali lagi perjalanan diri ini dan menemukan betapa Tuhan begitu sabar dengan manusia. Bagaimana sebelumnya seorang Johan Rio Pamungkas adalah begajul bau kencur saat SMP kemudian diubah menjadi orang yang berusaha makrifat kepada Allah. Tentu saja terima kasih lain harus dialamatkan kepada Rasulullah Muhammad SAW karena atas pengorbanan beliau, kita merasakan besarya nikmat Islam dan iman.

Hal lain yang membuat malam 24 Ramadan merupakan malam kesyukuran karena kajiannya adalah tentang Asmaul Husna Asy Syakur. Aku sendiri tidak begitu ingat siapa nama pematerinya. Pembawa acara hanya mengatakan guru setempat, ustadz lokal dan tempat bertanya bagi masyarakat sekitar. Namanya…Aku lupa. Tapi yang jelas para peserta terlihat begitu antusias dan bahagia mendengar beliau hadir serta menuturkan nasihatnya.

Berikut sedikit transkrip rekaman yang bisa saya rekam karena kemudian handphone saya baterainya lagi-lagi habis:

Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillahirrabilalamin, Allahumma Sholli Ala Sayidina Muhammad wa Ala Ali Sayidina Muhammad. Alhamdulillah, saya bisa ke sini lagi. Jamaah sekalian. Malam ini kita akan membahas tentang salah satu Nama Allah yang luar biasa. Asy Syakur. Allah yang Maha Mensyukuri.

Jadi hadirin yang dirahmati Allah, Insya Allah, kegembiraan adalah hal yang sering dialami oleh manusia. Biasanya terjadi karena mendapatkan suatu, atau ketika menemukan kembali barang berharga miliknya yang sempat hilang. Akan tetapi, kegembiraan manusia seperti ini tidak pernah menandingi kegembiraan Allah SWT manakala melihat hamba-Nya yang bertaubat dan mendekat kepada-Nya. Bahkan dalam salah satu hadis qudsi, Allah SWT menyampaikan bahwa dia akan mendekati hamba-Nya seribu langkah ketika hamba itu mendekatinya selangkah saja. Ketika hamba-Nya melakukan satu kebaikan saja, Allah SWT memberikan ganjaran kebaikan yang bekali lipat besarnya.

Asy-Syakur. Atau Allah Yang Maha Mensyukuri adalah salah satu sifat Allah SWT. Sifat-Nya yang menjadi motivasi kita untuk tidak berprasangka buruk terhadap-Nya. Juga menjadi motivasi kita untuk senantiasa yakin bahwa hanya dengan mendekat kepadaNya kita bisa meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

-end-

Wallahu’alam. Sampai segitu kupikir juga sudah mencukupi. Namun intinya seperti judul yang kutulis jika Allah saja bersyukur, mengapakah kita sebagai makhluk-Nya enggan bersyukur? Apakah karena merasa diri ini hebat? Semoga kita bisa menjadi orang yang selalu bersyukur bagaimanapun keadaan diri kita, betapapun serasa pelik hidup kita. Aamiin Yaa Robbal Alamin.

*Maaf agak telat karena dari tadi konsentrasi ke pemilihan presiden. Berdoa lagi yuk, semoga negeri ini semakin baik, Aamiin Yaa Robbal Alamin. Btw, kayak ada yang baca aja. Sekali lagi ini hanya reportase, semoga bermanfaat, minimal tidak merugikan.*

  1. Prolog
  2. Malam Pertama: Kesyukuran dan Iktikaf Sekarang
  3. Malam Kedua: Menghafal dan Membaca
  4. Malam Ketiga: Kronik Peperangan
July212014

Malam Ketiga: Kronik Peperangan

20 Juli 2014, Malam 23 Ramadhan 1435 H

Hujan malam ini membuat pertarungan kebatinan sungguh luar biasa dahsyat. Cuaca normal saja belum tentu orang akan melaksanakan amalan mulia sepuluh malam terakhir bulan Ramadan yakni berdiam diri di masjid alias iktikaf, apatah lagi ditambah hujan yang berlangsung sejak bakda asar. Masjid-masjid bisa diduga akan mengalami penyusutan jumlah jamaah yang signifikan. Pameo satir “sepuluh hari pertama bulan puasa masjid penuh dan justru sepuluh hari terakhir bulan puasa masjid kosong” kembali menemukan kebenarannya pada malam ini. Seminimalnya di masjid dekat rumah kontrakanku, Masjid Al-Barokah. Jamaah masjid ini terakhir kuingat masih lima atau enam baris tetapi malam ini hanya dua baris. Sebuah penurunan jumlah yang signifikan.

Perlahan sangat pelan aku pun mulai seperti termakan godaan untuk tidak melaksanakan iktikaf. Halus sangat halus bisikan itu datang, “Udah Jo, di luar hujan, cuaca sangat dingin dan pasti ini bukan malam Lailatul Qadar. Ingat menurut hadisnya malam seribu bulan itu tidak hujan. Nah ini hujan! Deras lagi. Sudahlah kembali ke rumah saja. Toh tidak ada yang tahu lu iktikaf apa enggak, tinggal ngarang aja di tumblr beres.” Begitu kisikan yang datang.

Setan sudah dibelenggu lalu dari mana datangnya bisikan itu? Justu di saat inilah ujian untuk mengetahui siapa sebenarnya kita. Apakah sebagai manusia atau jangan-jangan kita adalah setan berwujud manusia? Jikalau kita ternyata tidak kuat menahan bisikan untuk tidak beribadah di bulan Ramadan maka begitulah memang kualitas diri kita. Kita bisa jadi memang malas bukan karena setan tetapi memang begitulah diri ini. Aku jadi teringat tentang sebuah vlog yang mengatakan justru di bulan Ramadan setan paling banyak berkeliaran*. Ketika sholat kita teringat di mana meletakkan benda yang kita cari. Ketika kita baca Quran kita teringat mantan. Ketika beribadah kepada Allah kita justru teringat manusia. Itulah diri kita.

Aku menunggu sampai jam sebelas malam baru menyalakan motor. Tadinya aku hendak ke Masjid UI lagi. Itu adalah rencana awalku karena kajian iktikafnya adalah Tafsir Fii Dzilalil Quran. Tafsir yang ditulis oleh Sayyid Quthb ini merupakan tafsir Al-Quran favoritku. Rasa bahasa dan gaya sastranya luar biasa. Salah satu contohnya seperti yang pernah ku-posting juga di tumblr ini, “Maka, sikap yang paling baik ialah bersandar kepada kekuatan yang tidak ada kekuatan yang sebenarnya selain kekuatan-Nya.”**

Tapi, tentu saja jika jam sebelas malam kajian sudah selesai. Dan Masjid UI menurutku sudah tidak enak lagi untuk iktikaf dibandingkan beberapa tahun lalu. Terlalu ramai. Kemarin kalau bukan karena sudah kadung di sana atau karena tidak ada janjian dengan yang lain, mungkin aku tidak akan iktikaf di Masjid UI. Memoriku segera kuputar. Telepon pintar langsung kubuka. Aku hendak mengingat masjid mana saja yang pernah aku singgahi untuk iktikaf dan aku ingin tahu masjid mana saja yang melaksanakan iktikaf pada tahun ini.

Aku membuka WhatsApp untuk melihat kembali informasi masjid iktikaf. Satu per satu pesan WA aku telusuri sampai mataku tertuju pada pesan dari Wahyu, “Semarakkan I’tikaf…Masjid Al Furqon-Kukusan, Beji-Depok, sdh siap utk I’tikaf. Silahkan jadikan alternatif Rekan2 yg berminat di 10 hari Ramadhan.” Aku kaget juga karena seingatku Masjid Al Furqon tidak ada iktikaf. Meski sedikit sangsi kulajukan motor jua ke sana. Ternyata Wahyu berkata sebenarnya. Masjid yang terletak di Jalan Juragan Sinda tersebut mengadakan iktikaf. Tidak ramai memang tetapi juga tidak sepi. Pas.

Masjid ini rupanya baru saja direnovasi. Karpetnya pun baru, lebih tebal. Maka, peperangan yang selanjutnya dimulai yakni perang melawan kantuk dan nyamuk. Dan sesungguhnya peperangan paling dahsyat di sepuluh malam terakhir bulan puasa adalah perang antara tekad untuk beribadah melawan kewajaran agar tidur.

Aku iktikaf di Masjid Al Furqon sampai sahur karena ternyata masjid ini tidak menyediakan sahur, mungkin karena baru pertama kali mengadakan ditambah juga karena dekat warteg dan kosan. Para peserta iktikaf semuanya pergi di waktu sahur.

*Sayangnya aku gagal menemukan Video Blog tersebut yang menceritakan tentang bagaimana saat sholat diganggu anak-anak, saat baca Quran keingetan kunci mobil yang lupa ditaruh di mana. Kalau ada yang tahu tolong kasih tahu saya ya :)

**Kumpulan Kutipan Sayyid Quthb

Serial Iktikaf:

  1. Prolog
  2. Malam Pertama: Kesyukuran dan Iktikaf Sekarang
  3. Malam Kedua: Menghafal dan Membaca
July202014

Malam Kedua: Menghafal dan Membaca

Menghafalkan Quran itu seperti membuat gunung emas. Karena setiap huruf Quran adalah kebaikan. Maka, siapa yang menghafal dan membaca Quran sebenarnya mereka sedang menabung keuntungan yang banyak.

-Ustadz Yusuf Mansur-

19 Juli 2014

Depok, Masjid Ukhuwah Islamiyah, lepas Maghrib.

Aku sampai di masjid kebanggaan kampusku jam setengah tujuh malam. Di sana sudah ada dua orang sahabatku; Mas Rizal dan Mas Buhar plus Faiz yang katanya sudah datang dari asar. Kami hendak melakukan promosi Rumah Tahfidz Aqsha (RTA) dan Rumah Tahfidz Medina Mecca (RTMM) di Masjid UI.

Masjid UI ramai sekali. Awalnya aku tidak bisa menemukan mereka. Beruntunglah pada masa sekarang kita mempunyai teknologi yang bernama WhatsApp (WA). Pesan WA Mas Buhar jelas, “Di kanan saf belakang.” Akhirnya, aku menemukan mereka.

Namun, karena satu dan lain hal aku harus pergi. Kuberitahu satu hal bahwasanya berkendaraan jelang Isya di akhir pekan di bulan Ramadan adalah sebuah kesalahan. Jalanan luar biasa padat. Seharusnya kalau ada tips berbuka puasa bersama selesai tidak lebih dari pukul 18.30 idealnya mbok ya dijalankan tipsnya. Tapi sepertinya tidak mungkin juga memang buka puasa bersama selesai tidak lebih dari jam setengah tujuh. Lah wong, bedug Maghrib saja jam 17.55 kemudian takjilan yang bisa berlangsung lima belas menit. Dilanjutkan dengan sholat, lalu makan besar, ya selesai paling cepat jika memang dimaksimalkan adalah satu jam setelah berbuka. Itu pun dengan catatan kalau tidak ada acara lagi. Tidak mungkin buka puasa tidak ada acara. Justru orang banyak datang jelang buka puasa sehingga acara buka puasa ya setelah makan-makan. Jadi kalau ada yang memberikan tips buka puasa bersama agar selesai maksimal pukul 18.30 sepertinya yang memberikan tips lupa pernah mengadakan buka puasa bersama, itu pun jika pernah, ya kalau tidak, pantas saja tipsnya ngawur. Ah, aku jadi ngelindur ke mana-mana.

Aku balik ke Masjid UI tepat saat rakaat kedua salat Isya dimulai. Aku langsung mencari teman-temanku begitu salat Isya selesai. Sialnya, seperti yang sudah kukatakan tadi kalau telepon genggamku baterainya sudah habis. Terpaksalah aku mencari mereka manual dengan celingak-celinguk, menengok ke kanan-kiri, Sampai-sampai aku tidak konsentrasi untuk mendengar tausiyah yang disampaikan oleh Walikota Depok, Bapak Nur Mahmudi Ismail.

Badan Mas Rizal besar tidak mungkin tidak terlihat. Apalagi rambut dan wajahnya khas sekali. Bismillah pasti ketemu walau HP mati.” Begitu kataku dalam hati. Sayangnya sampai salam penutup Pak Walikota tetap saja aku tidak berhasil menemukan mereka. Akibatnya, aku semakin panik atau apa ya istilahnya yang lebih tepat karena jika panik ‘kan meledak-ledak tidak tentu, yah, kalau kata salah seorang teman di BEM dulu sih, “Elu tuh Jo,  terlalu gampang mondar-mandir, hehehe. Yah, my bad dari dulu memang.

Kebetulan kemudian wudhu yang aku miliki batal demi hukum. Sehingga tentu saja aku harus bersuci lagi dengan air. Ternyata setelah berwudhu aku justru langsung melihat Mas Rizal dan Mas Buhar. Padahal tempat mereka dekat sekali pada saat pertama kali aku mencari mereka. Well, mungkin inilah yang disebut ditutup mata dan kemudian dibukakan kembali penglihatan kita oleh Allah SWT, dalam scoop yang sangat sederhana. Segera kuhampiri mereka tepat ketika imam salat “memerintahkan” untuk salat Tarawih berjama’ah. Kami lalu salat Tarawih bersama.

Inti yang mau kubicarakan terkait judul dengan tulisan ini dimulai dari sini. Jadi sebenarnya abaikan saja tulisan-tulisan sebelumnya. Mohon maaf sudah membuang waktu dengan membacanya. Kalau aku sendiri tetap menuliskannya agar menjadi dokumentasi pribadi, hihihi.

 

Jadi seharusnya Ustadz Yusuf Mansur datang pada tanggal 19 Juli 2014 beliau akan memberikan wejangan tentang Menjadi Bahagia Bersama Al-Quran dan di situlah kepentinganku dan kawan-kawan yakni membagikan selebaran tentang RTA dan RTMM. Tapi, walaupun sudah diniatkan begitu rupa dan diusahkan UYM tidak bisa hadir ke Masjid UI. Sehingga pada akhirnya Pak Deddi Nordiawan yang akan menggantikan beliau sebelum sesi pengganti sebenar-benarnya yakni Pak Yunus Daud.

Pak Deddi memberikan motivasi kepada para mahasiswa untuk menghafalkan Quran. Mahasiswa yang membaca Quran tentu lebih tinggi derajatnya daripada mahasiswa yang tidak membaca Quran. Mahasiswa yang menghafalkan Quran tentu juga lebih tinggi derajatnya daripada mahasiswa yang tidak menghafalkan Quran. Bayangkan ketika suatu saat nanti ada ahli kimia, fisika, ekonomi dan ahli jurusan-jurusan lain yang merupakan penghafal Quran. Kita bisa melihat ada Ibnu Rusyd baru, kita bisa menemukan adanya Al Farabi muda, Ibnu Khaldun yang lebih modern dan sebagainya. Namun, itu semua tidak terjadi karena apa? Jangankan menghafal, membaca saja kita malas. Sesi Pak Deddi selesai.

Kupikir benar bahwa umat ini tertinggal karena kurang bacanya. Jangankan membaca kitab suci, membaca buku biasa saja bisa langsung mengantuk. Klasik memang tetapi itulah kenyataan. Atau dalam mantiki* diri ini, “Tidak mengapalah sekarang malas membaca karena sudah begitu banyak teknologi. Perihalnya sekarang adalah apakah kita menggunakan sesuai dengan kebutuhan atau jangan-jangan hanya karena kesukaan. Membaca dalam hal ini bisa melihat video atau mendengar audio. Pertanyaannya kemudian adalah apakah sudah bisa kita serap semua yang dari sana? Memang kemudian ada yang semangat sekali membaca mushaf tetapi justru lupa membaca ensiklopedi. Atau sebaliknya. Maka, aku sendiri mencamkan diri bahwa membaca Quran berbilang juz adalah ibadah kepada Allah sedangkan membaca buku biasa yang tidak berbilang juz adalah ibadah kepada sesama karena dengan membaca buku biasa yang tidak terbilang ‘ain, tidak berbilang juz, artinya aku harus membagikan pengetahuan yang aku punya dari bacaan tersebut.

Karena memang membaca bisa membuatmu mengerti dari yang sebelumnya bebal, membaca dapat meningkatkan dirimu pada awalnya pandir sehingga kemudian menjadi pirsa. Lalu, menghafal adalah tanda kamu mampu memaksa memori yang diberikan Allah kepadamu ke titik tertinggi.

*mantiki=berdasarkan pikiran (bukan berdasarkan emosi); logis

Sebelumnya:

  1. Prolog
  2. Malam Pertama: Kesyukuran dan Iktikaf Sekarang

Tambahan : Video Profil Rumah Tahfidz Aqsha dan Rumah Tahfidz Medina Mecca

July192014

Malam Pertama: Kesyukuran dan Iktikaf Sekarang

Depok, 18 Juli 2014

Sudut kanan bawah layar monitor komputer sudah menunjukkan waktu 5:50 PM. Kantorku sendiri sebenarnya selama bulan Ramadhan jam kerjanya adalah seven to four dengan dua jam pertama kerja digunakan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an. Rinciannya jam tujuh sampai jam delapan adalah waktu sholat dhuha dilanjutkan dengan tahsin atau membaca Iqro bagi yang belum lancar lalu, jam delapan sampai jam sembilan dipakai untuk hafalan surat Ali-Imran dengan metode Daqu. Mengapa aku masih berada di kantor? Ada tiga alasan. Pertama, aku memang sudah berencana untuk berbuka puasa di kantor karena istriku hari ini ada acara buka puasa dengan kawan-kawan kuliahnya di bilangan Sudirman. Kedua, masih berkaitan dengan plan adalah iktikaf di masjid dekat kantor, Masjid Al-Muhajirin namanya. Ketiga dan sebenarnya ini yang paling utama serta tidak dibuat-buat, menyelesaikan pekerjaan sebelum libur iktikaf, walaupun pekerjaan tambahan karena baru diberikan seusai asar dan ini juga sifatnya adalah memberikan bantuan teman.

Aku bersyukur berada di kantor ini. Alasan bersyukur? Karena aku tidak perlu keluar mencari takjil atau untuk salat berjamaah. Teman-teman secara berlomba-lomba menyediakan takjilan bahkan kadang makanan berbuka bagi yang lembur bekerja. Salat berjamaah? Itu hal yang wajib di kantorku. Bahkan di bulan Ramadan ini juga menggelar salat Tarawih karena sekaligus juga menjadi tempat tahfidz.  Santri tahfidz yang mahasiswa bergantian menjadi imam salat dengan ustaz pengajar. Sehingga tidak perlu khawatir ketinggalan salat Tarawih berjamaah juga. Jadi apakah ada alasan bagiku untuk tidak bersyukur ditempatkan di sini oleh Allah? Singkat cerita pekerjaan asliku sebenarnya sudah selesai tetapi, karena membantu teman yang belum selesai sehingga usai salat Tarawih aku tetap mengetik di depan papirus abad 21.

Pukul 22.07 istriku menghubungi telepon seluler dan mengatakan baru naik kereta menuju Depok lalu memintaku untuk menjemputnya. Seperti prajurit di peleton Easy Company dalam serial Band of Brothers agar segera menyerbu Normandia, aku pun dengan sigap meraih jaket dan melajukan motorku ke stasiun UI.

Arlojiku menunjukkan jam setengah sebelas tepat. Istriku belum juga kelihatan. Commuter Line as usual pikirku. Aku tidak habis pikir masih ada saja yang memuji Dirut KAI. Hanya satu pikirku, mungkin mereka tidak pernah naik CL. Akhirnya, istriku datang tujuh belas menit kemudian. Aku mengantarnya pulang karena dia sendiri juga tidak bisa iktikaf akibat kedatangan tamu bulanan.

Aku segera kembali ke kantor dan terjebak di kemacetan Jalan Margonda. Husnuzhon-ku mereka semua ingin ke Masjid Balaikota. Namun, pikiran positif tinggallah pikiran positif, ketika aku mengetahui penyebab kemacetan adalah seperti biasa yakni penumpukan kendaraan di segitiga pertokoan Margonda. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala, bayangkan saja jam sudah menunjukkan jam sebelas malam tetapi orang-orang masih banyak di pusat pertokoan. Lalu aku berdoa semoga lifestyle konsumtif menjelang hari raya berganti menjadi gaya hidup iktikaf walau hal seperti itu rasanya utopi.

Dua rekan, atau kalau boleh aku menyebutnya keluarga di kantor, masih terjaga guna membuka pintu untukku. Aku kemudian memasukkan motor lalu mengatakan kepada mereka bahwasanya aku hendak beriktikaf di Masjid Al-Muhajirin yang terletak di sebelah selatan tempat kerja kami dan hanya berjarak satu batang korek kayu dibakar.

Dari luar masjid, aku hanya melihat beberapa gelintir manusia saja. Semuanya bapak-bapak. Aku ragu untuk masuk tetapi sudah kadung di depan. Aku memberanikan diri untuk masuk. Ternyata ada yang mengenal diriku yakni Ketua DKM. Ya, karena seminggu sebelumnya Ketua Dewan Kemakmuran Masjid tersebut kami undang ke kantor, yang seperti di atas sudah kusebutkan bahwa kantor kami menyatu dengan sebuah rumah tahfidz, Rumah Tahfidz Aqsha (RTA) namanya. Ketua DKM menyambutku dengan gembira sepertinya karena hanya aku saja anak muda yang di sana.

Lebih kurang empat setengah jam aku berada di sana, di Masjid Al-Muhajirin. Aku memperhatikan bapak-bapak ini awalnya luar biasa mendaras Quran tetapi lama-kelamaan kuperhatikan sedikit-sedikit mereka melirik smartphone mereka. Aku pun juga tidak kuasa untuk tidak melihat telepon genggam pintarku si GT-B5330 dan kutemukan banyak akun Twitter yang kuikuti masih berkicau walau katanya mereka iktikaf. Maka, aku pun berkesimpulan iktikaf pada masa ini, saat zaman sekarang, adalah tentang bagaimana kita menjauhkan diri dari kehidupan bukan lagi tentang bagaimana kita mendekatkan diri kepada Tuhan. Aku tahu track record beberapa orang yang ku-follow, bagaimana mereka begitu rupa membaca satu hari satu Juz, berusaha untuk membangunkan yang lain untuk menghidupkan malam dengan salat Tahajud, lalu tak lupa mengingatkan untuk salat Dhuha. Kurang dekat apa mereka dengan Allah? Tetapi, kupikir ketika malam-malam yang seharusnya memang hanya untuk Allah, seperti sepuluh malam terakhir Ramadan ini dan diisi dengan iktikaf sudah seharusnya perhatian kepada Allah tidak terbagi dengan perhatian kepada kehidupan.

Setelah salat Tahajud, konsumsi sahur dibagikan. Aku juga ikut sahur di sana dengan hidangan lele goreng dan lalapan. Bukan, bukan, pecel lele karena memang tidak ada sambalnya. Bukan karena aku memang tidak suka sambal tetapi pengurus masjid memang menyediakannya seperti itu, tanpa sambal. FYI, sahurnya gratis karena yang ikut iktikaf sedikit. Usai santap sahur, aku pamit. Karena pun tidak ada kajian/ kuliah setelah subuh.

Aku tiba kembali di RTA pukul 03:40. Semua masih tidur. Aku membangunkan temanku yang memang bermukim di sana sebagai santri karya dengan bertanya, “Bang, bangun, biasanya pada sahur jam berapa?” Dengan segera dia melihat jam tangan dan menyalakan lampunya lalu membangunkan yang lain dan mengajak sahur. Aku sendiri karena sudah sahur langsung meminum air sebanyak empat gelas sesuai dengan anjuran sebuah produk air minum kemasan dalam iklannya dan menggosok gigi lalu menunggu subuh sambil merenungkan betapa welas asihnya Tuhan yang selalu memikirkan manusia walaupun manusia tidak selalu memikirkan-Nya.

*Tulisan ini adalah Laporan Pertanggungjawaban Iktikaf Johan

Lebih jelas dapat dibaca di Prolog

6AM

Prolog: Serial Libur Iktikaf*

Disclaimer: Tulisan dalam serial libur iktikaf ini bukan bermaksud untuk menunjukkan saya sedang iktikaf di mana atau bagaimana-bagaimana.

Tapi tulisan ini adalah sebuah tulisan pertanggung jawaban moral diri saya kepada direktur saya di perusahaan tempat saya bekerja yang memperbolehkan bahkan menganjurkan agar karyawannya iktikaf tanpa mengurangi jatah cuti maka saya sebut saja ini libur iktikaf.

Walaupun sebenarnya tidak disuruh atau tidak diwajibkan juga menulis kegiatan selama iktikaf bagi karyawan yang mengajukan cuti iktikaf tapi rasanya saya mempunyai tanggung jawab moral untuk menulis semacam Laporan Pertanggungjawaban (LPJ). Karena saya teringat sahabat dekat saya semasa kuliah yang bernama Dwi Dzatmiko yang pada saat menjadi Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa FIB UI selalu membuat LPJ walaupun dia tidak diwajibkan atau disuruh menuliskan LPJ tetapi dia berkata, “Agar kelak pertanggungjawaban di akhirat, Insya Allah lebih cepat.” 

Dan saya baru kali ini menulis lagi tentang pengalaman iktikaf saya sejak terakhir kali guru mata pelajaran Antropologi saya di kelas 3 SMA dulu meminta murid-muridnya untuk menuliskan pengalaman Ramadhan dan Lebaran serta hikmah, perilaku manusia juga budaya manusia seperti apa yang bisa diambil dari empiri tersebut. Bisa ditebak kemudian, kami yang ikut ROHIS SMA hampir semuanya menulis tentang iktikaf di masjid yang sama dan dengan pengalaman yang hampir sama. Namun, karena gaya tulisan nyastra saya plus sedikit bahan sejarah, yang sumbernya dari buku-buku sejarah milik kakak saya yang kebetulan sudah berkuliah di jurusan Sejarah UI, walau cerita hampir sama dengan belasan anak ROHIS lain, saya menjadi yang terbaik di antara saudara-saudari saya, ikhwan-akhwat di ROHIS.

Bahkan, tulisan saya adalah yang terbaik dari seluruh siswa kelas 3 IPS/Sosial yang saat itu berjumlah 207 orang. Yah, saat-saat saya masih muda, beda dan berbahaya ketika itu.

Oke, segitu dulu disclaimer-nya, ceritanya setelah posting-an ini agar terpisah. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari segala kejadian yang kita alami. :)

*Penulisan iktikaf yang sesuai dengan EYD dan KBBI.

**Hamba Tuhan yang sering melupakan Tuhan tetapi anehnya Tuhan tidak pernah melupakan hamba-Nya ini.*

Depok, Rumah Tahfidz Aqsha

05:55, 19 Juli 2014.

July182014
Setiap penulis novel memang punya latar belakangnya masing-masing.
Saya jadi teringat kata muhammadakhyar di sebuah sesi diskusi majalah-katajiwa alasan Pram tulisannya begitu bertenaga karena latar belakangnya yang penuh dengan penderitaan dan kesedihan.
teachingliteracy:

by incidentalcomics:
Behind Every Great Novelist (Illustration for the NY Times Book Review)

Setiap penulis novel memang punya latar belakangnya masing-masing.

Saya jadi teringat kata muhammadakhyar di sebuah sesi diskusi majalah-katajiwa alasan Pram tulisannya begitu bertenaga karena latar belakangnya yang penuh dengan penderitaan dan kesedihan.

teachingliteracy:

by incidentalcomics:

Behind Every Great Novelist (Illustration for the NY Times Book Review)

reblog 

7AM
Silakan ke google dan terinspirasilah dari kata-kata Mandela :)
goggledoddle:

Nelson Mandela’s 96th Birthday
 
Date: July 18, 2014
Google Doodler Katy Wu tells us a little bit about the creative process behind making the Nelson Mandela doodle.
 Getting to celebrate someone as monumental and influential as Nelson Mandela must have been exciting, but also kind of intimidating. Can you tell me a little about your experience working on this project?
 A few months ago I was looking to work on a bigger project and the time was right, so I got assigned to work on the Mandela doodle. At first I thought I would have to make a very serious, somber sort of doodle and I wasn’t sure what to do. 


 
But after learning more about Mandela as a person I started to understand that he was a man with a lot of character, and not always just a serious figure. That started to give me more ideas about how to approach this doodle.
 Right. I remember you telling the doodle team in earlier pitch sessions about some of his dance moves. What other kind of research did you do?
 I read about Nelson Mandela online and in books to get a better idea of who he was as a person.  I also received a lot of help from our local doodle manager in South Africa when it came to fact checking smaller lesser known details about South African culture, history, and people.




 What inspired the creative direction? Something that stood out to me about Nelson Mandela was his eloquent way with words.  I thought his words gave a great insight into the kind of man he was, so I wanted to focus the creative direction of the doodle on his quotes against a backdrop of the history of South Africa.
  

You definitely put typography to good use in order to give Mandela’s words a new dimension. How challenging was that?
 While working on the Doodle I spent a lot of time looking at examples of typography online and in design and typography books.  It took a lot of trial and error to figure out which typefaces can best abstractly convey the sort of feeling or atmosphere I wanted in each illustration.

 
The font, artwork, and story had to work together on this project.  Most of the quotes are hand drawn except for the first 2 slides.  By studying how other fonts are designed I began to draw my own so that I could better integrate the font with my own artwork. 



 Any hopes for how our users will respond to this doodle?
 I hope it inspires people to learn from Nelson Mandela and his way of life, to be kind, to understand, and to respect other people and our differences. 


Thanks Katy!
Location: Global
Tags: Human Rights, Interactive, Birthday, Democracy, History
http://ift.tt/v9YN86

Silakan ke google dan terinspirasilah dari kata-kata Mandela :)

goggledoddle:

Nelson Mandela’s 96th Birthday

Nelson Mandela's 96th Birthday

Date: July 18, 2014

Google Doodler Katy Wu tells us a little bit about the creative process behind making the Nelson Mandela doodle.


Getting to celebrate someone as monumental and influential as Nelson Mandela must have been exciting, but also kind of intimidating. Can you tell me a little about your experience working on this project?


A few months ago I was looking to work on a bigger project and the time was right, so I got assigned to work on the Mandela doodle. At first I thought I would have to make a very serious, somber sort of doodle and I wasn’t sure what to do.

image

 
But after learning more about Mandela as a person I started to understand that he was a man with a lot of character, and not always just a serious figure. That started to give me more ideas about how to approach this doodle.


Right. I remember you telling the doodle team in earlier pitch sessions about some of his dance moves. What other kind of research did you do?


I read about Nelson Mandela online and in books to get a better idea of who he was as a person.  I also received a lot of help from our local doodle manager in South Africa when it came to fact checking smaller lesser known details about South African culture, history, and people.
image

What inspired the creative direction?


Something that stood out to me about Nelson Mandela was his eloquent way with words.  I thought his words gave a great insight into the kind of man he was, so I wanted to focus the creative direction of the doodle on his quotes against a backdrop of the history of South Africa.
 

You definitely put typography to good use in order to give Mandela’s words a new dimension. How challenging was that?


While working on the Doodle I spent a lot of time looking at examples of typography online and in design and typography books.  It took a lot of trial and error to figure out which typefaces can best abstractly convey the sort of feeling or atmosphere I wanted in each illustration.
image


The font, artwork, and story had to work together on this project.  Most of the quotes are hand drawn except for the first 2 slides.  By studying how other fonts are designed I began to draw my own so that I could better integrate the font with my own artwork.

image


Any hopes for how our users will respond to this doodle?


I hope it inspires people to learn from Nelson Mandela and his way of life, to be kind, to understand, and to respect other people and our differences.

image


Thanks Katy!

Location: Global

Tags: Human Rights, Interactive, Birthday, Democracy, History

http://ift.tt/v9YN86

reblog 

July172014
← Older entries Page 1 of 103